Menjadi Muslim Indonesia: Kado Kebanggaan untuk Harlah NKRI dan Nuzul Al-Qur’an

Oleh: Mamang M. Haerudin*)

Satu pertanyaan pertama yang mungkin muncul kemuka, mengapa harus menjadi Muslim Indonesia?, bagi penulis ini pertanyaan bukan hanya menarik-menggelitik melainkan pula pertanyaan semacam ini harus menjadi bahan perenungan, mempertegas sekaligus untuk mempertanyakan kembali identitas ke-Musliman dan ke-Indonesiaan kita  sebagai insan yang hidup dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang  (kebetulan) beragama Islam, sehingga jelaslah bahwa pertanyaan tersebut diatas bukan tanpa tendensi dan urgensi.

Baiklah, sambil berjalan sembari mengeksplorasi khazanah atas pertanyaan tersebut tadi, bahwa kita, manusia dan seisinya harus konsekuen dengan sunnatullah hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, konsekuensi seperti ini berimplikasi dimana negeri ini bukan hanya berpenduduk Muslim terbesar di dunia, melainkan pula merupakan komitmen dari  realitas disetiap ekses kehidupannya serba plural. Pluralitas ini bisa kita lihat dari beragamnya latarbelakang penduduk Nusantara; mulai dari adat istiadat, budaya, jenis kelamin, suku, bahasa, agama, dan lain sebagainya, yang ini kadang tidak dimiliki oleh Negara di belahan dunia lainnya.

Dengan demikian, urgensi dari Muslim Indonesia adalah sadar dengan penuh penghayatan dalam bernalar, berucap, sekaligus bertindak yang sesuai dengan konteks sosio-kultur bangsa Indonesia. Meminjam berbagai  istilah yang digelontorkan Marzuki Wahid yakni berislam ala Indonesia, Islam yang berkarakter Indonesia, Islam yang berbaju kebudayaan Indonesia, Islam yang bernalar Nusantara, dengan konsekuensi Islam Indonesia adalah bukan Islam fotocopy Arab, bukan cloning Islam Timur Tengah, bukan flagiasi Islam Barat, dan seterusnya.

Spirit 17 Agustus 1945: Memperkokoh Empat Pilar

Salah satu hasil keputusan Muktamar NU ke 32 di Makasar, silam, sebagaimana pula berkali-kali disampaikan oleh Ketua umum PBNU (Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA) diberbagai tempat dan kesempatan, bahwa komitmen yang harus dibangun oleh segenap warga Nahdliyin dan umum masyarakat Nusantara—dalam berkehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama—adalah tetap teguh dan memperkokoh empat pilar yaitu NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Memperkokoh komitmen empat pilar makin menemukan relevansi dan signifikansinya tatkala dihadapkan dengan sejumlah fenomena “mabuk formalisasi Islam”, dimana-mana digembor-gemborkan nyanyian penegakkan syariat Islam oleh segelintir kelompok atau ormas. Yang kemudian berimplikasi “lumayan” terhadap perkembangan keagamaan diberbagai daerah, sebut saja kota-kota di provinsi Aceh, Indramayu, dan daerah lainnya.

Keputusan kompromistis founding father’s soal NKRI, kini sedang berhadapan sengit dengan genderang dan tabuhan Negara Islam atau Khilafah Islamiyah. Dari kenyataan NKRI versus Negara Islam (Khilafah Islamiyah) ini, berbuntut pula pada “peyingkiran” Pancasila sebagai landasan ideologi, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan berkehidupan. Sehingga alih-alih kemudian “mereka” menawarkan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah, tentunya versi “mereka”.

Kedigdayaan NKRI semakin dirongrong keajegannya bukan hanya oleh genderang “sulapan” Negara Islam, tetapi juga makin ditusuk oleh maraknya radikalisme hingga tindak terorisme. Betapa tidak, menurut catatan Moderate Muslim Society (MMS) yang dikomandoi Zuhairi Misrawi, bahwa sepanjang tahun 2010 wajah intoleransi (radikalisme) telah terjadi 81 kasus dengan berbagai karakteristiknya. Kenyataan pahit ini berulang kali terjadi dengan dan atas modus nama agama, dengan capaian 73% dari 81 kasus tersebut diantaranya menimpa naas kelompok Kristen dan Ahmadiyah. Dari wujud konkrit fenomena tersebut dan dari berbagai karakteristik wajah intoleransinya itu, ada benang merah yang dapat ditarik, dan bertemu pada satu kesimpulan, yakni ketidakmampuan dan ketidakberdayaan untuk merajut dialog secara dingin dan terbuka, atas inkonsistensi pada bangunan NKRI, Pancasila, UUD 19545, dan Bhineka Tunggal Ika.

Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali dengan kembali pada nilai-nilai luhur yang terkandung didalam empat pilar, yakni dengan kembali mengacu pada bangunan kompromistis NKRI sebagai wadah pemersatu bangsa, Pancasila sebagai wadah pemersatu ideologi, UUD 1945 sebagai wadah pemersatu konstitusi, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu keanekaragaman nusantara. Tiada kata terlambat bagi kita untuk kembali menyulam dan merajut persatuan dan kesatuan itu. Dan kiranya sekarang adalah momen tepat untuk kembali pada empat pilar tersebut, yakni dalam semarak  Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-66 (17 Agustus 1945-17 Agustus 2011).

Tafsir Islam untuk Indonesia

Al-Maghfurlah Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dalam sebuah kesempatan, pernah menyodorkan sebuah pertanyaan menarik, “Kita ini sebetulnya orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam?” Pertanyaan ini secara kasat mata begitu sederhana dan sepintas tidak bermasalah, tetapi sebetulnya jika saja kita membacanya kembali dengan seksama, tajam, dan kritis, maka akan muncul dua gagasan yang saling kontras dan bertolak belakang.

Ini lah yang kemudian menjadi kandungan subtantif dari interpretasi Islam untuk Indonesia. Yakni mengedepankan antara “ke-Islaman” atau Ke-Indonesiaan. Secara tegas dan kritis, penulis harus menyatakan bahwa yang pertama dan utama kita kedepankan adalah term ke-Indonesiaan. Konsekuensi dari ke-Indonesiaan ini lah yang oleh Gus Dur di analogikan dengan pertanyaan “orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam”. Paradigma ke-Indonesiaan semacam ini menandaskan bahwa Islam itu bukan Arab, Islam itu bukan Timur Tengah, melainkan Islam itu adalah nilai-nilai universal yang mengandung kemanusiaan, keadilan, toleransi, kesetaraan dan monotheisme. Islam yang bersifat transkultural, transnegara, dan transglobal. Ini sejalan bahwa “Islam shalih likulli zamanin wa makanin.”

Sehingga konsekuensinya berbeda dengan paradigma “orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia. Keterkukuhan atas paradigma secam inilah yang kemudian berimplikasi pada keberislaman yang tidak orisinil, keberislaman yang jauh dari identitas sosio-kulturalnya. Kecenderungan paradigma seperti ini pula yang pada akhirnya membuahkan Arabisme, keberislaman yang menjiplak Islam ala Arab. Tidak menganehkan jika akhir-akhir ini bermunculan simbolisasi-simbolisasi Arabisme; mulai dari aksesoris, cara berpakaian, bernalar, hingga bersikap yang melulu di-Arabkan.

Dari realitas ini, nampak tidak problematik, namun kemudian jika kita telaah lebih mendalam, dari paradigma seperti ini yang kemudian melahirkan genderang “membid’ahkan’ seluruh produk-produk Indonesia, misalnya ziarah kubur, tahlil, mitoni, ngupati, dan tradisi-tradisi Indonesia lainnya.

Sejauh pandang mata kasat, fenomena bid’ahisasi semacam ini meski merusak, tapi tidak terlalu ekstrim, yang lebih fatal jika fenomena bid’ahisasi ini berbuntut pada labelisasi musyrik, kafir, halal darahnya, hingga sampai pada intimidasi, anarkhisme, serta terorisme, ironisnya, fenomena ini dianggap sebagai sebuah jihad fi sabilillah. Megadili dan main hakim sendiri hanya karena berbeda atau tidak mengikuti pandangan mereka.

Kalau sudah sedemikian parah realitasnya, kiranya perlu dilakukan reinterpretasi tentang cara pandang dan pemahaman terhadap berbagai realitas dan identitas sosio-kultural bangsa Indonesia, terutama berkait kelindan dengan cara olah penafsiran terhadap teks-teks keagamaan baik dalam Al-Qur’an ataupun sunnah.

Adalah kembali kepada spirit dan misi Islam rahmatan lil’alamin, Islam yang dapat mengasihi siapapun orangnya dan apapun identitasnya. Ada beberapa cara pandang dan metodologi yang harus dikembangkan terkait dengan cara pandang Islam rahmatan lil’alamin.

Partama, kaitannya dengan olah interpretasi, yakni dengan melakukan interpretasi ulang terhadap teks-teks keagamaan. Reinterpretasi yang dimaksud adalah membaca teks-teks tidak secara tekstual-literal, melainkan harus disesuaikan dengan konteksnya, pula harus disesuaikan dengan latarbelakang histories (asbab al-nuzul).

Kedua, kaitannya dengan nasionalisme, yakni memahami dan menyelami Islam yang (kebetulan) hadir di Indonesia. Dari metodologi pemikiran Islam seperti ini akan membawa implikasi pada sinergitas dan akulturasi dengan budaya-budaya setempat yang berkembang di Indonesia atau dalam bahasa KH. Husein Muhammad; “Kaifa nataqaddam duuna an natakhalla ‘an al-turats” (bagaimana kita bisa maju tanpa membongkar tradisi).

Ketiga, kaitannya dengan pluralisme, yakni bersikap aktif menyongsong perbedaan (kebhinekaan) sebagai wujud rasa syukur atas anugerah Tuhan. Keberagaman dengan segala perbedaannya adalah niscaya, namun demikian, dari keniscayaan ini, manusia dituntut agar dapat merayakan keragaman seraya menyongsong persatuan dan kesatuan, yakni dengan mempertemukan titik temu disetiap ekses kehidupan yang berbeda. Misalnya keragaman dalam agama, meski agama beragam namun pada hakikatnya adalah sebagai pemersatu, selain sebagai mempertegas fungsi agama itu sendiri, ini pula yang sebetulnya terkandung dalam adagium “Bhineka Tunggal Ika”. Caranya, yakni dengan membangun sebuah tatatan kehidupan yang toleran, menghargai setiap perbedaan, menjunjung keadilan dan kesetaraan, serta menghindari tindak kekerasan. Menurut hemat penulis, inilah sejatinya Islam rahmat.

Dengan behitu, momen Harlah NKRI seyogyanya dapat dijadikan fundamen atas rasa syukur kita terhadap Tuhan yang Maha Kuasa dan para pahlawan yang telah mendahului kita, tentunya dengan dapat melanjutkan perjuangan-perjuangannya di masa dan konteks sekarang. Begitupun momen nuzul al-Qur’an dapat dijadikan sebagai dasar dalam menghadirkan nilai-nilai “terang” yang terkandung didalamnya, tentunya untuk kemaslahatan semesta. Ini lah barang kali bentuk rasa syukur penulis atas kehadiran dua momen sejarah yang begitu agung, dimana (sekali lagi) pada hari ini adalah momen terbaik yang telah menjadi ukiran dalam catatan histories bangsa yakni mengumandangnya proklamasi, 17 Agustus 1945. Dan atas rahmat Tuhan yang maha Kuasa pula, bahwa 17 Agustus 2011 ini bertepatan pula dengan momen nuzul al-Qur’an (17 Ramadlan 1432 H). Dengan penuh kebangaan, penulis persembahkan tulisan ini sebagai kado special untuk Dirgahayu NKRI ke-66 dan Nuzul al-Qur’an 1432 H. Wallahu’alam.

*) Penulis adalah Santri PP Raudlatuth Thalibin,  Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon, dan Ketua Departemen Kajian dan Pengembangan Pendidikan PC. IPNU Kab. Cirebon

Posted on 16 August 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: